Berita

[Judul 1]

×

[Judul 1]

Sebarkan artikel ini
[Judul 1]
[Judul 1]

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan masyarakat muslim dunia, khususnya di Indonesia. Aktivitas ekonomi berubah, pola konsumsi bergeser, jam kerja menyesuaikan, dan pergerakan harga sering kali menjadi sorotan. Bagi umat Islam, Ramadan adalah bulan ibadah dan pengendalian diri. Namun bagi seorang ekonom, Ramadan juga merupakan fenomena ekonomi yang menarik untuk dikaji. Perubahan perilaku konsumsi dan produksi yang terjadi secara serentak dalam skala besar menciptakan dinamika tersendiri dalam inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Inilah yang bisa kita sebut sebagai “Ramadanomics”.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Eyerci, Toprak, dan Demir (2021) di Turki menunjukkan bahwa Ramadan memang memiliki dampak nyata terhadap harga dan produksi. Studi tersebut menemukan bahwa beberapa harga pangan mengalami kenaikan signifikan selama Ramadan, sementara pada saat yang sama produksi industri justru cenderung menurun. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa bulan Ramadan bukan hanya fenomena sosial dan religius, tetapi juga memiliki konsekuensi ekonomi yang terukur.

Dalam teori ekonomi, kenaikan harga biasanya terjadi ketika permintaan meningkat lebih cepat daripada penawaran. Pada bulan Ramadan, perubahan bukan terletak pada fakta bahwa orang tetap makan, melainkan pada pergeseran waktu dan pola konsumsinya. Aktivitas makan yang biasanya tersebar dari pagi hingga malam hari menjadi terkonsentrasi pada dua waktu utama, yakni sahur dan berbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *